ID Food Mengungkap Dampak Perang Timur Tengah Terhadap Kelangkaan Bahan Baku Plastik

Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah kini mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap sektor pangan di Indonesia. PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), lebih dikenal sebagai ID Food, telah mengonfirmasi adanya kelangkaan bahan baku plastik yang berpengaruh pada proses pengemasan produk pangan. Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, menyatakan bahwa permasalahan ini telah mulai dirasakan di berbagai lini produksi, khususnya yang sangat bergantung pada kemasan berbahan plastik. Ia mengungkapkan, “Kami menghadapi tantangan yang saat ini menjadi perhatian utama, yaitu kesulitan dalam penyediaan kemasan. Di seluruh pabrik, kelangkaan biji plastik sudah mulai terasa. Hal ini menjadi isu kritis, mengingat hampir semua produk pangan, pupuk, dan beras menggunakan karung plastik. Begitu juga dengan kemasan minyak goreng yang juga memanfaatkan bahan yang sama,” ungkap Ghimoyo saat rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR di Jakarta.
Detil Masalah Kelangkaan Bahan Baku Plastik
Ghimoyo menjelaskan bahwa kelangkaan bahan baku plastik ini berakar dari terbatasnya pasokan di tingkat pemasok. Kondisi tersebut tidak hanya dirasakan oleh ID Food, tetapi juga oleh mitra produsen kemasan yang bekerja sama dengan perusahaan. Namun, ia menambahkan bahwa hingga saat ini, belum ada dampak langsung yang terlihat pada harga jual produk akibat lonjakan harga plastik. “Kami belum dapat memastikan apakah akan ada kenaikan harga produk jadi. Saat ini, yang terlihat hanyalah kelangkaan pasokan,” jelasnya.
Kelangkaan bahan baku plastik ini, menurut Ghimoyo, baru mulai terasa di lingkup internal ID Food, terutama melalui kerjasama maklon dengan beberapa pemasok kemasan. Ia menyatakan bahwa para pemasok yang memproduksi plastik dan kemasan telah menginformasikan mengenai keterbatasan pasokan yang mereka hadapi. Meskipun demikian, Ghimoyo menegaskan bahwa tekanan terhadap pasokan kemasan plastik saat ini masih terbatas pada fasilitas internal perusahaan, khususnya pabrik karung yang dimiliki ID Food, yang kapasitas produksinya relatif kecil jika dibandingkan dengan skala nasional.
Pengaruh Global Terhadap Pasokan Lokal
Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) mencatat bahwa lonjakan harga bahan baku plastik kini juga mulai berdampak pada konsumen. Penutupan Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah telah memicu kelangkaan bahan baku plastik, disertai dengan lonjakan harga hingga 50%. Henry Chevalier, Ketua Umum Aphindo, mengungkapkan bahwa kondisi ini berpotensi menyebabkan inflasi yang lebih luas, terutama di tengah melemahnya daya beli masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kenaikan biaya bahan baku plastik secara otomatis akan mempengaruhi biaya produksi industri hilir, yang kemudian diteruskan ke harga produk akhir seperti kemasan makanan, minuman, hingga produk farmasi. “Harga kantong kresek yang sebelumnya terjangkau kini sudah naik hampir 50%,” jelas Henry saat dihubungi.
Penutupan Selat Hormuz tidak hanya memengaruhi harga, tetapi juga menyebabkan gangguan serius dalam rantai pasok bahan baku plastik. Banyak pelaku usaha yang merasa ragu untuk melakukan kontrak dengan pelanggan mereka karena risiko kelangkaan pasokan, meskipun secara finansial mereka masih mampu. Selain itu, upaya untuk mengimpor bahan baku plastik juga mengalami kendala. Henry menambahkan bahwa perusahaan asuransi kini enggan menanggung pengiriman yang melintasi Selat Hormuz, yang semakin memperburuk situasi pengiriman.
Respons Terhadap Tantangan Pasokan
Akibat situasi ini, banyak negara pemasok di Asia, seperti China, Thailand, dan Vietnam, mulai memprioritaskan kebutuhan domestik mereka dan membatasi ekspor. Beberapa negara bahkan menahan pasokan untuk menjaga ketersediaan di dalam negeri. Imbasnya, pasokan bahan baku plastik di Indonesia berada pada level yang tidak aman, dan menyebabkan lonjakan harga di pasar antara 40% hingga 50%. Kenaikan harga ini hanya menambah tekanan yang sudah dialami oleh pelaku industri.
Di sisi lain, industri petrokimia di dalam negeri saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 50% hingga 60% dari total kebutuhan bahan baku plastik. Dengan kata lain, sekitar 40% hingga 50% dari kebutuhan tersebut masih bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah dan sebagian kecil dari China. Hal ini mengindikasikan bahwa ketergantungan pada pasokan luar negeri berpotensi menimbulkan risiko lebih lanjut bagi industri dalam negeri.
Dampak terhadap Tenaga Kerja
Gangguan terhadap produksi akibat keterbatasan pasokan dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mempertahankan tenaga kerja mereka. Indikasi pengurangan tenaga kerja sudah mulai terlihat di beberapa pelaku industri, meskipun masih dalam tahap awal. “Beberapa perusahaan mungkin sudah mulai mempertimbangkan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, karena mereka masih memiliki modal, mereka berusaha untuk bertahan. Meski begitu, ada beberapa industri plastik hilir yang telah menunjukkan tanda-tanda menuju arah tersebut,” pungkasnya.
Strategi Menghadapi Kelangkaan Bahan Baku Plastik
Dalam menghadapi tantangan yang dihadapi akibat kelangkaan bahan baku plastik ini, penting bagi industri untuk mengembangkan strategi yang adaptif dan inovatif. Beberapa langkah yang dapat diambil oleh pelaku industri meliputi:
- Mencari alternatif bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan dan tidak bergantung pada plastik.
- Memperkuat jaringan pasokan lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
- Melakukan riset dan pengembangan untuk menciptakan solusi kemasan yang lebih efisien.
- Berinvestasi dalam teknologi baru untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi limbah.
- Melakukan kolaborasi dengan pemerintah dan asosiasi industri untuk menjaga stabilitas pasokan.
Ke depannya, kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang lebih resilient dalam menghadapi ketidakpastian yang disebabkan oleh konflik global dan perubahan pasar. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan industri pangan dan kemasan di Indonesia dapat bertahan dan beradaptasi dengan baik di tengah tantangan yang ada.



